Jan 31, 2010

Jan
31,
2010

DEFINISI / PENGERTIAN KURIKULUM

Ada banyak definisi untuk kata 'kurikulum'. Kurikulum sendiri berasal dari bahasa latin: curere yang artinya berlari cepat. Setelah dikembangkan berbentuk kata kurikulum, artinya berubah menjadi 'suatu jarak yang harus ditempuh seorang pelari mulai dari start hingga garis finish'.

Namun, jika kita cermati, kata kurikulum sekarang sangat terkait dan begitu melekat dengan dunia pendidikan, sehingga orang - orang sering menyebut kurikulum sebagai bagian dari dunia pendidikan, bagian yang tak terpisahkan. Jadi apa sebenarnya arti kurikulum yang kita kenal sekarang? Ada banyak pengertian. Saya akan mengutip diantaranya:

1. "Sejumlah mata pelajaran yang harus ditempuh oleh siswa untuk kenaikan kelas/mendapatkan ijazah" (kamus Webster 1875)
2. "Segala sesuatu yang diperoleh anak di bawah tanggung jawab sekolah" (William B Ragam;Modern Elementary Curricullum, 1963)


Namun, definisi yang diungkapkan oleh Ragan mempunyai banyak kelemahan, karena pada kenyataannya, segala pengalaman yang diperoleh seorang anak di sekolahnya tidak selalu positif. Ragan membuat definisi tersebut seolah - olah apapun yang diperoleh anak di sekolah, baik itu positif maupun negatif, menjadi tanggung jawab sekolah, dan disebut kurikulum. Sebagai contoh, apabila seorang anak mencontek atau tawuran di sekolahnya, walaupun hal itu terjadi secara tidak pernah sengaja dijadikan program sekolah, tetap menjadi tanggung jawab sekolah dan disebut dengan kurikulum.

Lalu muncullah definisi lainnya yang dikeluarkan oleh J.B Saylor dan Alexander.
Segala usaha untuk memengaruhi anak belajar, baik di dalam kelas, halaman, maupun di luar sekolah.

Definisi ini cukup menjawab segara kekurangan definisi yang dikemukakan oleh Ragan. Dalam definisinya, J.B Saylor dan Alexander menggunakan kalimat segala usaha. Ini berarti segala usaha yang diusahakan oleh sekolah untuk memengaruhi anak belajar, dan usaha - usaha yang dilakukan oleh sekolah ini diharapkan sebagai hal - hal yang positif, mengingat sekolah adalah suatu lembaga pendidikan. Hal - hal yang tidak diusahakan oleh pihak sekolah tidak disebut sebagai kurikulum.

Setelah itu, ada beberapa tokoh lainnya yang mengutarakan definisi kurikulum. Namun pada intinya, semuanya kurang lebih sama dengan apa yang diutarakan oleh J.B Saylor dan Alexander. Tetapi rupanya definisi - definisi tersebut masih mempunyai satu kekurangan, sehingga keluarlah satu definisi lagi yang dikeluarkan oleh Soedijarto, salah seorang tokoh pendidikan Indonesia. Beliau mengatakan definisi kurikulum sbb:

Segala usaha yang diusahakan oleh pihak sekolah untuk memengaruhi kegiatan belajar mengajar anak, baik di dalam maupun luar sekolah, yang mempunyai tujuan yang sesuai dengan lembaga yang bersangkutan.


Definisi tersebut melengkapi definisi yang diutarakan oleh J.B Saylor dan Alexander. Jika dibandingkan antara kedua definisi tersebut, definisi J.B Saylor dan Alexander mempunyai kelemahan karena definisinya yang terlalu luas dan hanya berfokus pada segala usaha yang memengaruhi anak belajar, namun tidak ada tujuan jelas untuk apa dan mengapa usaha tersebut perlu dilakukan. Sedangkan definisi yang dikeluarkan oleh Soedijarto dengan jelas menyatakan bahwa kurikulum harus mempunyai tujuan yang sesuai dengan lembaga yang bersangkutan. Dalam artian, semua kurikulum yang dikeluarkan oleh pihak lembaga yang terkait harus cocok dan sesuai dengan lembaga tersebut. Sehingga tidak ada kurikulum yang menyimpang, dan karena ada tujuan, kurikulum menjadi lebih mudah dicapai dan terkonsep.

Sumber : segala yang dikatakan oleh Pak Khaerudin, dosen pengampu Pengantar Pengembangan Kurikulum Universitas Negeri Jakarta 2009.

No comments:

Post a Comment

About me

My photo
seorang gadis mungil yang biasa - biasa saja tapi mencoba untuk survive di saat - saat yang luar biasa!
 

blog gado - gado Design by Insight © 2009